Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya, sebagai penyampai wahyu dari-Nya, selawat serta salam kita sampaikan kepada Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan kepada keluarga serta para sahabat beliau.
Pertanyaan “Di manakah Allah?” merupakan pertanyaan yang ditanyakan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada seorang budak milik Muawiyah bin Hakam. Kemudian budak tersebut menjawabnya, dan Beliau membenarkan jawabannya, kemudian Beliau memerintahkan Muawiyah bin Hakam agar memerdekakannya karena dia adalah wanita mukminah. Tahukah Anda apa jawaban dari budak tersebut?
Sebelumnya, kami ingin menjelaskan bahwa permasalahan “di mana Allah” merupakan permasalahan yang sangat penting, karena ini menyangkut keberadaan dzat yang kita sembah. Bukankah kita setiap saat menyembah-Nya?
Ada yang mengatakan Allah di mana-mana, bahkan menyatu di dalam hatinya, ada juga yang mengatakan Allah tidak ada di tempat manapun, kalau begitu apakah Allah itu ada (??). Ada juga yang mengatakan tidak tahu. Bahkan ada yang mengingkari pertanyaan ini dan mengatakan “tidak boleh bertanya seperti itu!”, padahal Rasullullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya dengan pertanyaan ini.
Orang yang berakal pastinya akan berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam masalah ini, serta mengikuti pemahaman para generasi terdahulu yang shalih (para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik), karena bagaimana mungkin kita mengatakan sesuatu tentang Allah dengan perasaan dan pemikiran sendiri?
Sebenarnya jawabannya jelas dan nyata, banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan keberadaan Allah -ta’ala- yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Bahwa Dia ada di atas langit, ber-istiwa’ di atas ‘Arsy-Nya yang agung, dan terpisah dari makhluk-makhluk-Nya.
Berikut kami bawakan dalil-dalilnya:
Dalil dari Al-Qur’an:
1. Dalil yang dengan jelas menyatakan bahwa Allah ada di atas:
“Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka” (QS An Nahl : 50)
“dan Dia-lah yang berkuasa di atas hamba-hamba-Nya” (QS Al An’am : 18)
2. Dalil yang dengan jelas menyatakan para malaikat naik ke atas menghadap kepada Allah.
“Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya” (QS Al Ma’aarij : 4)
3. Dalil yang dengan jelas menyatakan naiknya amalan baik kepada-Nya.
“Kepadanya-lah akan naik perkataan-perkataan yang baik” (QS Faatir : 4)
4. Dalil yang dengan jelas menyatakan bahwa nabi Isa diangkat menuju-Nya.
“tetapi Allah mengangkatnya (Isa) kepada-Nya” (QS An Nisaa’ : 158)
5. Dalil yang dengan jelas menyatakan bahwa Allah maha Tinggi.
“dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS Al Baqarah:255)
6. Dalil yang dengan jelas menyatakan bahwa Al-Qur’an yang berasal dari-Nya diturunkan.
“Dia-lah yang menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu” (QS Ali Imran : 7)
“Kitab ini (Al Qur’an) diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS Al Mu’min : 2)
7. Dalil yang dengan jelas menyatakan Allah di atas langit.
“Apakah kalian merasa aman dari (Allah) yang di (atas) langit” (QS Al-Mulk : 16).”
8. Dalil yang dengan tegas bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, yang mana ‘Arsy adalah makhluk-Nya yang paling tinggi.
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas Arsy” (QS Al A’raf : 54)
Dalil dari hadits:
1. Hadits yang dengan jelas menyatakan Allah di atas langit.
Dari ‘Amr bin ‘Ash -radiyallahu ‘anhu- bahwa rasulullah -shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayang Ar-Rahman (Allah), berkasih sayanglah kalian kepada yang di bumi, maka yang di atas langit akan menyangi kalian” (Hadits shahih riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)
2. Hadits yang mengisyaratkan bahwa ketika berdo’a, tangan kita ke atas mengarah kepada Allah.
Dari Salman Al Farisi, Rasulullah -shallallhu ‘alaihi wa sallam- bersabda “Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki sifat malu lagi Maha Mulia, Dia malu jika seseorang mengangkat tangannya ke arah-Nya bila Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan hampa dan tidak mendapat apa-apa” (Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No.1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68. Musnad Ahmad 5/438. Dishahihkan Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud).
3. Hadits yang menyatakan turunnya Allah ke langit dunia di setiap sepertiga malam terakhir.
Dari Abu Hurairoh -radiyallahu ‘anhu- bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Rabb kita turun di setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian Dia berkata, “barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku akan aku kabulkan, barangsiapa yang meminta akan aku beri, dan barangsiapa yang beristigfar akan aku ampuni” (HR Bukhori dan Muslim).
4. Ketika Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam menanyakan hal ini kepada budak wanita Mu’awiyah bin Hakam as Sulamiy: “Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada budak perempuan itu: “Dimanakah Allah?” Jawab budak perempuan: “Di atas langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapakah aku?” Jawab budak perempuan: “Engkau adalah Rasulullah.” Beliau bersabda: “Merdekakanlah Dia! Karena sesungguhnya Dia seorang mu’minah. (Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Juz 2 hal 70-71))
Perkataan para Imam kaum muslimin:
1. Perkataan Imam Abu Hanifah.
Diriwayatkan oleh Syaikhul Islam Abu Ismail Al Anshori di dalam kitabnya Al Faarouq, sanadnya kepada Muthi’ Al Bulkhi, bahwa dia bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang mengatakan “saya tidak tahu apakah Rabb saya ada di langit atau di bumi? Beliau (Imam Abu Hanifah) menjawab, “dia kafir, karena Allah ta’ala berfirman, “Ar-Rahman di atas ‘Arsy Dia ber-istiwa’” dan ‘Arsy-Nya di atas langit yang tujuh”.
Aku (Muthi’) berkata, “seandainya dia berkata bahwa Allah di atas Arsy akan tetapi dia tidak tahu Arsy itu apakah di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah berkata, “orang itu kafir karena dia mengingkari Allah ada di atas langit, barangsiapa yang mengingkari bahwa Allah di atas langit maka dia kafir”.
2. Perkataan Imam Malik
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam kitab At Tamhid, Imam Malik berkata, “Allah ada di atas langit, dan ilmu-Nya ada di segala tempat dan tidak ada tempat yang tidak diketahui-Nya”
Abu Umar At-Thalmankiy di kitabnya Al Ushul berkata, “ahlus sunnah telah ijma’ bahwa dzat Allah beristiwa’ di atas Arsy-Nya secara hakiki, bukan majaz” kemudian beliau menyebutkan perkataan Imam Malik di atas.
3. Perkataan Imam As Syafi’i.
Imam Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Roozy berkata, “Abu Syu’aib dan Abu Tsaur telah menceritakan kepada kami bahwa Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i berkata, “perkataan di dalam as-sunnah yang aku berpegang di atasnya dan saya melihat sahabat-sahabat kami ahli hadits yang aku ikuti seperti Sufyan dan Malik dan lainnya adalah menyatakan kesaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah rasulullah, serta Allah ta’ala ada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit, Dia mendekat kepada makhluk-Nya dengan cara yang sesuai dengan kehendaknya, dan Allah turun ke langit dunia dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya.
4. Perkataan Imam Ahmad.
Al Khollaal berkata di dalam kitab As Sunnah, telah menceritakan kepadaku Abdul Mulk bin Abdil Hamid Al Maimuuni, beliau berkata, “aku bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang orang yang berkata, “sesungguhnya Allah ta’ala tidak di atas ‘Arsy”, beliau (Imam Ahmad) menjawab, “perkataan mereka semuanya itu beredar di seputar kekufuran”
Dari perkataan imam-imam tersebut, maka jelaslah bahwa keberadaan Allah di atas langit merupakan sesuatu yang qoth’i (pasti), berdasarkan nash-nash yang tidak diragukan lagi. Bahkan seseorang tidak boleh mengatakan, “saya tidak tahu Allah dimana”.
Banyak lagi dalil-dalil dari Al Qur’an, As Sunnah, dan perkataan para imam yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas lagit, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya yang agung, dan Dia terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Maha Tinggi Allah, dan Maha Suci Allah dari perkataan yang mengatakan Allah dimana-mana, bahkan bersatu dengan makhluk-Nya.
Adapun ayat yang menyatakan, “dan Kami lebih dekat kepada-Nya daripada urat leher-Nya” (QS Qoof : 16), maka para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dekat di sini adalah ilmu serta pengawasan-Nya, sementara dzat Allah tetap ada di atas ‘Arsy-Nya.
Sumber : http://yoad.wordpress.com








0 comments:
Post a Comment